Judul                    : Berani Tidak Disukai


Penulis                 : Ichiro Kishimi & Fumitake Koga


Penerjemah         : Agnes Cynthia


Penerbit               : Gramedia Pustaka Utama.


Tahun Terbit       : Cetakan ke-1, Oktober 2019. Cetakan ke-6, September 2020


Jumlah halaman : 323 halaman


ISBN                     : 978-602-06-3321-3


Permisi???

Mau bertanya saja, siapa diantara kalian yang berani tidak disukai oleh orang lain?

Oke, saya bisa menafsirkan jawaban-jawaban dari Anda semua.

Terdengar aneh sekali celotehan ini, but...

Let's read this!


Banyak dari kita yang pastinya ingin membahasiakan orang di sekitar kita. Entah dalam jangka pendek maupun panjang. Pasalnya, tidak dapat dipungkiri bahwa pemikiran kita mengarah pada stigma "Nggak apa-apa aku yang tersakiti, asal jangan dia/mereka." Oke, perkataan tadi juga tidak jarang mengendap di pikiranku. Tapi, hal seperti itu tentu akan membuat diri kita merasa terbatasi ruang dan waktunya, azekkk. Stop! Lupakan guyonan tadi dan kita kembali mendalami isi buku penuh misteri ini. 


Buku berjudul Berani Tidak Disukai adalah salah satu buku yang memuat tidak sembarangan isi. Arah pemikiran kita bisa saja belok 180 derajat lebih baik kalau sudah berteman baik dengan buku ini. Buku yang dibagi menjadi lima bagian point yang dikisahkan dengan malam. Yakni malam pertama, malam kedua, malam ketiga, malam keempat, dan malam kelima. Setelah sampai di pintu gerbang masuk buku keren ini, kita akan berjelajah dalam dimensi Alfred Adler.


Mulanya, buku ini begitu kontras dan menuai provokasi untuk dikemas di kepala kita. Berbagai hal yang disuguhkan oleh buku ini ternyata berhasil membuka lorong penuh makna yang seharusnya dapat kita sadari sedari dulu. Buku berjudul Berani Tidak Disukai membuat kita menemukan kunci bagaimana seharusnya kita berlagak layaknya manusia yang tidak hidup pada orang lain, namun pada diri sendiri yang menjadi tempat ruh kita. Perjalanan hidup yang tidak akan sia-sia karena terlalu berambisi dan berkorban demi orang lain juga diperinci pada tiap-tiap diksinya. Memang, peran orang lain sangatlah besar terhadap keberlangsungan hidup. 


Terkadang kita mengabaikan keinginan dan kepentingan diri kita sendiri karena lebih mengutamankan orang lain. That's right!... Ada dua kemungkinan yang mempengaruhi seseorang bersikap demikian. Pertama, kita memang sengaja ingin dipuji atas apa yang kita lakukan. Kedua, kita terlalu takut disalahkan dan tidak memiliki teman ketika berada pada sebuah perkumpulan. Jika kita terus-terusan mempelihara pemikiran yang demikian, percayalah kita tidak akan mengecap rasa bahagia jika semua komentator orang lain dijadikan beban yang wajib dituruti dan terlalu berpikir apa kata orang, merasa rendah diri, yang akhirnya menimbulkan rasa tidak bahagia. 


Ajaibnya, buku ini dengan gaya yang apa adanya dan sederhana mampu mengubah mindset yang belum tercerahkan dalam diri manusia. Sebagai makhluk hidup yang diciptakan, manusia memiliki hak untuk bahagia dan memilih jalur menemui kebahagiaan menurut versi terbaiknya. Another brave, bahagia itu berasal dari diri dan pikiran kita sendiri. Dan setelah membaca buku keren satu ini, akan ku wariskan kalimat tak terbendung dari hati, ternyata bahagia itu sederhana.

Comments